Jumat, 14 Juni 2013
Selasa, 11 Juni 2013
Guru & Kecerdasan Belajar
A.
Pengertian
dan Konsep kecerdasan
Menurut Wechsler
sebagaimana dikutip oleh Iskandar (2009:50) menjelaskan bahwa kecerdasan adalah
konsep genetik yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan
tertentu. Sedangkan menurut Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan
sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara
cepat dan efektif.
Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi kecerdasan seseorang, yaitu : (1) faktor bawaan/ keturunan,
seperti gen dan kromosom; (2) faktor lingkungan, seperti makanan (gizi) dan rangsangan
yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan.
Nilai utama yang
menjadi pendidik cerdas adalah : (1) Responsif, (2) Analitis, (3) Inovatif, (4)
Solusif. Pengertian cerdas hendaknya tidak dipahami dalam arti sempit tetapi
dipahami dalam arti luas. Seseorang yang fatonah
tidak saja cerdas tetapi memiliki kebijakan dalam berfikir dan bertindak. (Hidayatullah,
2009 : 198).
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi/ kecerdasan adalah suatu
kemampuan mental yang
melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi
tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai
tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
B.
Kecerdasan
Intelektual
Kecerdasan
intelektual merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif dan
mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan
menjawab). Kecerdasan ini dikenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan
potensi rasio dalam memecahkan masalah. (Iskandar, 2009:58)
Kecerdasan intelektual memiliki peran dalam
mengindentifikasi masalah, menganalisis dan mensintesis objek, memberikan
informasi baik-buruk dan untung-rugi, dan sebagainya. Untuk mengambil keputusan
atau tidak diambil keputusan, berani atau tidak ditentuka oleh kecerdasan
emosi. (Hidayatullah, 2009: 199)
Adapun perhitungan kecerdasan intelektual
atau IQ secara klasik menurut Dali Gulo, 1982: 125) merupakan hasil bagi umur
mental (mental age) dengan umur kronilogis (chronological age) yang kemudian
dikalikan dengan angka 100. (Hidayatullah, 2009: 198)
IQ =
( MA / CA ) x 100
Keterangan
:
MA
: Mental Age (usia mental)
CA
: Chronological age (usia kronologis)
100
: angka konstan untuk menghindari bilangan decimal
Tabel
1. Klasifikasi IQ tersebut Nampak seperti pada table berikut.
Klasifikasi
|
Rentangan IQ
|
% Poupulasi
|
Sangat Superior
|
140- 169
|
1,6
|
Superior
|
120-139
|
11,3
|
Rata-rata tinggi
|
110-119
|
18,1
|
Normal
|
90-109
|
48,5
|
Rata-rata rendah
|
80-89
|
14,5
|
Batas lemah
pikiran
|
70-79
|
5,6
|
Gangguan mental
|
30-69
|
2,6
|
Dari ; Terman and Merril , Stanford-Binet Scale : Manual
for the thied revision, form L- M (Boston: Houghton mflin, 1960,p.18).
C.
Kecerdasan
Emosional
Emotional
Intelligence menurut Daniel Goleman
(2008:152) merupakan kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan
inteligensi (to manage our emotional life
with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its
expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri,
motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Kecerdasan emosional seorang guru memainkan
peranan penting dalam meningkatkan perfomanya dalam mengajar dan berinteraksi
dengan segenap komponen sekolah. Kesuksesan seseorang dipengaruhi faktor
kecerdasan intelektualnya hanya sekitar 20%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh
faktor lain yang diantaranya adalah kecerdasan emosional. (Goleman, 2008:16)
Sebagai
individu pekerja, seorang guru haruslah memiliki kepekaan dalam memahami emosi
diri dan memiliki rasa empati sehingga bisa memahami orang lain dan bisa
menjalin kerjasama dengan orang lain. Dengan kepekaan terhadap hal-hal
tersebut, tentunya akan melahirkan motivasi dan kepercayaan diri dalam
mengajar. Kecerdasan emosional bukan lawan dari kecerdasan intelektual, akan
tetapi keduanya berinteraksi secara dinamis baik pada tataran konseptual maupun
di dunia nyata. (Shapiro, 1997:9)
Interaksi antara guru dan siswa merupakan
komponen penting dari sekian banyak komponen yang turut mendukung prestasi
belajar siswa. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar
juga dipengaruhi oleh keterampilan mengajar guru. Oleh karena itu, kecerdasan
emosional memiliki peranan penting dalam meningkatkan kinerja seseorang. (Mohyi,
1999:197)
Menurut Daniel Goleman (2003) terdapat 5
dimensi kecerdasan emosional yang keseluruhannya diturunkan menjadi 25
kompetensi.
Tabel 2. Dimensi dan Kompetensi Kecerdasan
Emosional
NO
|
DIMENSI
|
KOMPETENSI
|
1.
|
self awareness (kesadaran diri) : mengetahui keadaan
dalam diri, hal yang lebih disukai, dan intuisi.
|
mengenali emosi sendiri, mengetahui
kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri.
|
2.
|
self regulation (pengaturan diri) : mengelola keadaan
dalam diri dan sumber daya diri sendiri.
|
menahan emosi dan dorongan negatif, menjaga
norma kejujuran dan integritas, bertanggung jawab atas kinerja pribadi, luwes
terhadap perubahan, dan terbuka terhadap ide-ide serta informasi baru.
|
3.
|
motivation (motivasi) : dorongan yang membimbing atau
membantu pencapaian sasaran atau tujuan.
|
dorongan untuk menjadi lebih baik,
menyesuaikan dengan sasaran kelompok atau organisasi, kesiapan untuk
memanfaatkan kesempatan, dan kegigihan dalam memperjuangkan kegagalan dan
hambatan.
|
4.
|
empathy (empati) :
kesadaran akan perasaan, kepentingan, dan keprihatinan orang.
|
understanding
others, developing other, customer service, menciptakan kesempatan-kesempatan melalui
pergaulandengan berbagai macam orang, membaca hubungan antara keadaan emosi
dan kekuatan hubungan suatu kelompok.
|
5.
|
social skill (kecakapan dalam membina hubungan dengan
orang lain) : kemahiran dalam
menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain.
|
kemampuan persuasi, mendengar dengan
terbuka dan memberi pesan yang jelas, kemampuan menyelesaikan pendapat,
semangat leadership, kolaborasi,
dan kooperasi, serta team building.
|
D.
Kecerdasan
Kepribadian (personaliti)
Keberhasilan
pada proses pendidikan
akan tercapai apabila
guru mempunyai pribadi masing-masing
sesuai pribadi yang
mereka miliki. Masalah
kepribadian merupakan faktor
yang menentukan terhadap keberhasilan sebagai
pendidik. Kepribadian dapat menentukan
apakah guru menjadi pendidik dan
pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan peserta
didik didik, terutama bagi peserta didik didik yang masih kecil.
Menurut Sukmadinata (2005:134) menjelaskan
bahwa kepribadian adalah pengaruh seseorang kepada orang lain (personality
is your effect upon other people). Pengaruh seseorang kepada orang lain
seringkali dilator belakangi oleh kekuasaan/ kekuatan yang dimilikinya,
misalkan ilmu, kedudukan, jabatan, popularitas, dan kecantikannya.
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan
untuk mempengaruhi orang lain. Umumnya, orang yang mempunyai kecerdasan
interpersonal dapat beradaptasi di lingkungan baru dengan mudah dan mampu
menyampaikan informasi dengan baik. Orang yang mempunyai kecerdasn
interpersonal lebih senang bekerja kelompok. (Mulyaza, 2010 : 175-176)
Sedangkan menurut Iskandar (2009:56)
menjelaskan bahwa kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk
peka terhadap perasaan orang lain.
Kecerdasan interpersonal sangat membantu
dalam proses pembelajaran, kemampuan ini membantu guru selalu dapat mengambil
hati peserta didik, sehingga pelajaran akan lebih mudah dipahami. Beberapa ciri
yang menonjol pada kecerdasan interpersonal adalah sebagai berikut: (1)
berpenampilan menarik dan murah senyum; (2) mampu berkomunikasi dengan baik;
(3) senang bergaul dan suka berorganisasi. .(Mulyaza, 2010 :176-177).
Kecerdasan intrapersonal didefinisikan
sebagai kepekaan terhadap perasaan , keinginan dan ketakutan sendiri. (Mulyaza,
2010:177)
Salah satu ciri orang yang mempunyai
kecerdasan intrapersonal adalah peka terhadap lingkungan, berkarakter, mandiri
dan mempunyai prinsip yang kuat. Dengan kepekaan yang tinggi, guru dapat
menyampaikan materi pelajaran dengan mudah sekaligus dapat mengontrol tingkat
ketercapaiannya. Apabila di dalam kelas terdapat peserta didik yang tidak
paham, bingung, dan tidak konsentrasi guru dapat mengetahui dengan cepat. (Mulyaza,
2010:178)
E.
Kecerdasan
Spiritual
Zohar dan Marshall (2007:4) sebagaimana
dikutip oleh Hidayatullah (2009:208) mengatakan
kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan
persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan
hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan
dengan yang lain.
Kecerdasan spiritual merupakan kesadaran
dalam diri kita menemukan dan mengembangkan bakat-bakat bawaan, intuisi,
otoritas batin, kemampuan membedakan yang salah dan benar serta kebijaksanaan.
(Psatiadarma, 2003:67)
Zohar dan Marshall (2007:14) sebagaimana
dikutip oleh Furqon Hidayatullah (2009:208-209) mengemukan tanda-tanda SQ yang
telah berkembang baik mencangkup hal-hal sebagai berikut:
a. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan
aktif).
b. Tingkat kesadaran yang tinggi.
c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
d. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
g. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai
hal (berpandangan Holistik).
h. Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa atau bagaimana
jika untuk mencari jawaban-jawaban mendasar.
Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan
untuk menempatkan perilaku dan hidup secara profesional dalam konteks makna
yang lebih luas; kecerdasan spiritual dapat dijadikan landasan yang diperlukan
untuk memfungsikan kecerdasan intelektual dan emosional secara efektif, yang
perlu dikembangkan dan diintegrasikan dalam proses pendidikan, di antaranya
adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa pa da
setiap prilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat
fitrah menuju manusia yang seutuhnya, dan memiliki pola pemikiran tauhid serta
berprinsip hanya kepada Allah SWT.
F.
Peran
Guru dalam Mengembangkan IEKS
Pendidik
memiliki peranan penting dalam mengembangkan keseimbangan IEKS. Hal ini hanya
dapat dilakukan bila bisa merubah budaya
ketidakdisplinan menjadi disiplin dan meningkatkan rasa tanggung jawab guru
terhadap sekolah.
Sebagai
pendidik (calon pendidik) bertugas mengembangkan segenap potensi (fitrah)
kemanusiaan yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang
bermakna (meaningfull learning),
menyenangkan (joyfull learning) dan
menantang (problematical learning),
sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia
Indonesia yang kaffah. (Iskandar, 2009:80)
Peran guru sangat penting, sebagai sosok pribadi, manusia yang monopluralis memiliki
banyak kelemahan dan kelebihan. Namun demikian kelemahan yang dimiliki seorang
guru selayaknya tidak menjadi penghambat dari berlangsungnya proses
pembelajaran itu sendiri. Maka guru dalam proses pembelajaran juga harus memandang siswa sebagai makhluk
monopluralis. Dengan demikian maka semua
potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan optimal.
Dan semua potensi yang dimilikinya dapat digunakan untuk memanusiakan
manusia dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa upaya yang seyogyanya
diperhatikan ayau dilakukan oleh guru sebagai orang tua di sekolah dalam rangka
membimbing atau memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik didik
secara optimal.
Tabel
3. Upaya seorang guru dalam mengembangkan kecerdasan IEKS
KECERDASAN
|
UPAYA
|
Intelektual
(aspek : kreativitas/ daya pikir/ daya
cipta)
|
a.
Member contoh/
mendorong peserta didik untu gemar membaca.
b.
Melatih peserta
didik untuk belajar berfikir sebab akibat.
c.
Membiasakan peserta
didik untuk berani mengungkapkan ide/ gagasan atau mengajukan pertanyaan.
|
Emosional
(aspek : emosi)
|
a.
Memberikan
penghargaan (pujian atau hadiah).
b.
Mengembangkan sikap
dan kebiasaan saling menyayangi kepada
teman.
c.
Membicarakan
tentang cara menyalurkan keinginan tanpa mengganggu perasaan orang lain.
|
Kepribadian
(aspek : kerjasama, kedisiplinan,
toleransi)
|
a.
Mengembangkan sikap
dan kebiasaan untuk mentaati tata tertib.
b.
Mengembangkan sikap
dan kebiasaan untuk saling menghormati, menolong, dan menjalin persahabatan.
c.
Mengenalkan tata
karma/ adat istiadat.
|
Spiritual
(aspek : akidah, ibadah, akhlak)
|
a.
Memberikan contoh/
teladan dalam mengamalkan ajaran agama.
b.
Mengenalkan rukun
iman dan islam.
c.
Mengenalkan
kekuasaan Allah melalui alam ciptaannya.
d.
Mengenalkan kepada peserta
didik tentang hal-hal yang diharamkan agama.
e.
Menyediakan sarana
ibadah.
|
Sumber : Yusuf dan Nani (2011:56-58)
DAFTAR RUJUKAN
E.
Shapiro, Lawrence. 1997. Mengajarkan
Kecerdasan Emosional pada Anak. Penerjemah Alex Tri Kantjono. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Goleman,
Daniel. 2008. Emotional Intelligence
(Kecerdasan Emosional). Penerjemah T. Hermaya. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka.
Hidayahtullah, Furqon. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter
Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan: sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung Persada
Press.
Mohyi,Achmad. 1999. Teori dan Prilaku Organisasi. Malang: UMM Press.
Mulyaza, A.Z. 2010. Rahasia Menjadi Guru Hebat.
Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
Psatiadarma, Monty. 2003. Mendidik Kecerdasan. Jakarta: Pustaka Popular
Obor.
Satiadarma, Monty P. 2003. Mendidik
Kecerdasan. Jakarta: Pustaka
Popular Obor.
Sukmadinata, Nana S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsul dan Nina M. Sugandhi.
2011. Perkembangan Peserta didik.
Jakarta: Rajawali Pers.
Langganan:
Komentar (Atom)
