Selasa, 11 Juni 2013

Guru & Kecerdasan Belajar




 A.   Pengertian dan Konsep kecerdasan
Menurut Wechsler sebagaimana dikutip oleh Iskandar (2009:50) menjelaskan bahwa kecerdasan adalah konsep genetik yang melibatkan kemampuan individual untuk berbuat dengan tujuan tertentu. Sedangkan menurut Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan seseorang, yaitu : (1) faktor bawaan/ keturunan, seperti gen dan kromosom; (2) faktor lingkungan, seperti makanan (gizi) dan rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan.
Nilai utama yang menjadi pendidik cerdas adalah : (1) Responsif, (2) Analitis, (3) Inovatif, (4) Solusif. Pengertian cerdas hendaknya tidak dipahami dalam arti sempit tetapi dipahami dalam arti luas. Seseorang yang fatonah tidak saja cerdas tetapi memiliki kebijakan dalam berfikir dan bertindak. (Hidayatullah, 2009 : 198).
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi/ kecerdasan adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

B.   Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif dan mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung, dan menjawab). Kecerdasan ini dikenal dengan kecerdasan rasional karena menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah. (Iskandar, 2009:58)
Kecerdasan intelektual memiliki peran dalam mengindentifikasi masalah, menganalisis dan mensintesis objek, memberikan informasi baik-buruk dan untung-rugi, dan sebagainya. Untuk mengambil keputusan atau tidak diambil keputusan, berani atau tidak ditentuka oleh kecerdasan emosi. (Hidayatullah, 2009: 199)
Adapun perhitungan kecerdasan intelektual atau IQ secara klasik menurut Dali Gulo, 1982: 125) merupakan hasil bagi umur mental (mental age) dengan umur kronilogis (chronological age) yang kemudian dikalikan dengan angka 100. (Hidayatullah, 2009: 198)

IQ = ( MA / CA ) x 100
Keterangan :
MA : Mental Age (usia mental)  
CA : Chronological age (usia kronologis)
100 : angka konstan untuk menghindari bilangan decimal
Tabel 1. Klasifikasi IQ tersebut Nampak seperti pada table berikut.
Klasifikasi
Rentangan IQ
% Poupulasi
Sangat Superior
140- 169
1,6
Superior
120-139
11,3
Rata-rata tinggi
110-119
18,1
Normal
90-109
48,5
Rata-rata rendah
80-89
14,5
Batas lemah pikiran
70-79
5,6
Gangguan mental
30-69
2,6
Dari ; Terman and Merril , Stanford-Binet Scale : Manual for the thied revision, form L- M (Boston: Houghton mflin, 1960,p.18).

C.   Kecerdasan Emosional
Emotional Intelligence menurut Daniel Goleman (2008:152) merupakan kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Kecerdasan emosional seorang guru memainkan peranan penting dalam meningkatkan perfomanya dalam mengajar dan berinteraksi dengan segenap komponen sekolah. Kesuksesan seseorang dipengaruhi faktor kecerdasan intelektualnya hanya sekitar 20%. Sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang diantaranya adalah kecerdasan emosional. (Goleman, 2008:16)
            Sebagai individu pekerja, seorang guru haruslah memiliki kepekaan dalam memahami emosi diri dan memiliki rasa empati sehingga bisa memahami orang lain dan bisa menjalin kerjasama dengan orang lain. Dengan kepekaan terhadap hal-hal tersebut, tentunya akan melahirkan motivasi dan kepercayaan diri dalam mengajar. Kecerdasan emosional bukan lawan dari kecerdasan intelektual, akan tetapi keduanya berinteraksi secara dinamis baik pada tataran konseptual maupun di dunia nyata. (Shapiro, 1997:9)
Interaksi antara guru dan siswa merupakan komponen penting dari sekian banyak komponen yang turut mendukung prestasi belajar siswa. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar juga dipengaruhi oleh keterampilan mengajar guru. Oleh karena itu, kecerdasan emosional memiliki peranan penting dalam meningkatkan kinerja seseorang. (Mohyi, 1999:197)
Menurut Daniel Goleman (2003) terdapat 5 dimensi kecerdasan emosional yang keseluruhannya diturunkan menjadi 25 kompetensi.

Tabel 2. Dimensi dan Kompetensi Kecerdasan Emosional
NO
DIMENSI
KOMPETENSI
1.
self awareness (kesadaran diri) : mengetahui keadaan dalam diri, hal yang lebih disukai, dan intuisi.
mengenali emosi sendiri, mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri.

2.
self regulation (pengaturan diri) : mengelola keadaan dalam diri dan sumber daya diri sendiri.
menahan emosi dan dorongan negatif, menjaga norma kejujuran dan integritas, bertanggung jawab atas kinerja pribadi, luwes terhadap perubahan, dan terbuka terhadap ide-ide serta informasi baru.
3.
motivation (motivasi) : dorongan yang membimbing atau membantu pencapaian sasaran atau tujuan.
dorongan untuk menjadi lebih baik, menyesuaikan dengan sasaran kelompok atau organisasi, kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan, dan kegigihan dalam memperjuangkan kegagalan dan hambatan.
4.
empathy (empati) :  kesadaran akan perasaan, kepentingan, dan keprihatinan orang.
understanding others, developing other, customer service, menciptakan kesempatan-kesempatan melalui pergaulandengan berbagai macam orang, membaca hubungan antara keadaan emosi dan kekuatan hubungan suatu kelompok.
5.
social skill (kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain) :  kemahiran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain.
kemampuan persuasi, mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas, kemampuan menyelesaikan pendapat, semangat leadership, kolaborasi, dan kooperasi, serta team building.

D.   Kecerdasan Kepribadian (personaliti)
Keberhasilan  pada  proses  pendidikan  akan  tercapai  apabila  guru mempunyai  pribadi  masing-masing  sesuai  pribadi  yang  mereka  miliki. Masalah kepribadian  merupakan  faktor  yang  menentukan  terhadap keberhasilan  sebagai  pendidik.  Kepribadian dapat  menentukan  apakah  guru menjadi pendidik dan pembina yang baik ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi hari depan peserta didik didik, terutama bagi peserta didik didik yang masih kecil.
Menurut Sukmadinata (2005:134) menjelaskan bahwa kepribadian adalah pengaruh seseorang kepada orang lain (personality is your effect upon other people). Pengaruh seseorang kepada orang lain seringkali dilator belakangi oleh kekuasaan/ kekuatan yang dimilikinya, misalkan ilmu, kedudukan, jabatan, popularitas, dan kecantikannya.
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Umumnya, orang yang mempunyai kecerdasan interpersonal dapat beradaptasi di lingkungan baru dengan mudah dan mampu menyampaikan informasi dengan baik. Orang yang mempunyai kecerdasn interpersonal lebih senang bekerja kelompok. (Mulyaza, 2010 : 175-176)
Sedangkan menurut Iskandar (2009:56) menjelaskan bahwa kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain.
Kecerdasan interpersonal sangat membantu dalam proses pembelajaran, kemampuan ini membantu guru selalu dapat mengambil hati peserta didik, sehingga pelajaran akan lebih mudah dipahami. Beberapa ciri yang menonjol pada kecerdasan interpersonal adalah sebagai berikut: (1) berpenampilan menarik dan murah senyum; (2) mampu berkomunikasi dengan baik; (3) senang bergaul dan suka berorganisasi. .(Mulyaza, 2010 :176-177).
Kecerdasan intrapersonal didefinisikan sebagai kepekaan terhadap perasaan , keinginan dan ketakutan sendiri. (Mulyaza, 2010:177)
Salah satu ciri orang yang mempunyai kecerdasan intrapersonal adalah peka terhadap lingkungan, berkarakter, mandiri dan mempunyai prinsip yang kuat. Dengan kepekaan yang tinggi, guru dapat menyampaikan materi pelajaran dengan mudah sekaligus dapat mengontrol tingkat ketercapaiannya. Apabila di dalam kelas terdapat peserta didik yang tidak paham, bingung, dan tidak konsentrasi guru dapat mengetahui dengan cepat. (Mulyaza, 2010:178)


E.   Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall (2007:4) sebagaimana dikutip oleh  Hidayatullah (2009:208) mengatakan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Kecerdasan spiritual merupakan kesadaran dalam diri kita menemukan dan mengembangkan bakat-bakat bawaan, intuisi, otoritas batin, kemampuan membedakan yang salah dan benar serta kebijaksanaan. (Psatiadarma, 2003:67)
Zohar dan Marshall (2007:14) sebagaimana dikutip oleh Furqon Hidayatullah (2009:208-209) mengemukan tanda-tanda SQ yang telah berkembang baik mencangkup hal-hal sebagai berikut:
a.    Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif).
b.    Tingkat kesadaran yang tinggi.
c.    Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
d.    Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
e.    Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai.
f.     Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
g.    Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan Holistik).
h.    Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa atau bagaimana jika untuk mencari jawaban-jawaban mendasar.
Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup secara profesional dalam konteks makna yang lebih luas; kecerdasan spiritual dapat dijadikan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan kecerdasan intelektual dan emosional secara efektif, yang perlu dikembangkan dan diintegrasikan dalam proses pendidikan, di antaranya adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa pa da setiap prilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah menuju manusia yang seutuhnya, dan memiliki pola pemikiran tauhid serta berprinsip hanya kepada Allah SWT.

F.    Peran Guru dalam Mengembangkan IEKS
Pendidik memiliki peranan penting dalam mengembangkan keseimbangan IEKS. Hal ini hanya dapat dilakukan bila bisa merubah budaya ketidakdisplinan menjadi disiplin dan meningkatkan rasa tanggung jawab guru terhadap sekolah.
Sebagai pendidik (calon pendidik) bertugas mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusiaan yang dimilikinya, melalui pendekatan dan proses pembelajaran yang bermakna (meaningfull learning), menyenangkan (joyfull learning) dan menantang (problematical learning), sehingga pada gilirannya dapat dihasilkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang kaffah. (Iskandar, 2009:80)
Peran guru sangat penting, sebagai sosok pribadi, manusia yang monopluralis memiliki banyak kelemahan dan kelebihan. Namun demikian kelemahan yang dimiliki seorang guru selayaknya tidak menjadi penghambat dari berlangsungnya proses pembelajaran itu sendiri. Maka guru dalam proses pembelajaran juga  harus memandang siswa sebagai makhluk monopluralis. Dengan demikian  maka semua potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan optimal. Dan semua potensi yang dimilikinya dapat digunakan untuk memanusiakan manusia dalam proses pembelajaran.

            Ada beberapa upaya yang seyogyanya diperhatikan ayau dilakukan oleh guru sebagai orang tua di sekolah dalam rangka membimbing atau memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik didik secara  optimal.

Tabel 3. Upaya seorang guru dalam mengembangkan kecerdasan IEKS
KECERDASAN
UPAYA
Intelektual
(aspek : kreativitas/ daya pikir/ daya cipta)
a.   Member contoh/ mendorong peserta didik untu gemar membaca.
b.   Melatih peserta didik untuk belajar berfikir sebab akibat.
c.   Membiasakan peserta didik untuk berani mengungkapkan ide/ gagasan atau mengajukan pertanyaan.

Emosional
(aspek : emosi)
a.   Memberikan penghargaan (pujian atau hadiah).
b.   Mengembangkan sikap dan kebiasaan saling  menyayangi kepada teman.
c.   Membicarakan tentang cara menyalurkan keinginan tanpa mengganggu perasaan orang lain.

Kepribadian
(aspek : kerjasama, kedisiplinan, toleransi)
a.   Mengembangkan sikap dan kebiasaan untuk mentaati tata tertib.
b.   Mengembangkan sikap dan kebiasaan untuk saling menghormati, menolong, dan menjalin persahabatan.
c.   Mengenalkan tata karma/ adat istiadat.

Spiritual
(aspek : akidah, ibadah, akhlak)
a.   Memberikan contoh/ teladan dalam mengamalkan ajaran agama.
b.   Mengenalkan rukun iman dan islam.
c.   Mengenalkan kekuasaan Allah melalui alam ciptaannya.
d.   Mengenalkan kepada peserta didik tentang hal-hal yang diharamkan agama.
e.   Menyediakan sarana ibadah.

                                                            Sumber : Yusuf dan Nani (2011:56-58)

DAFTAR RUJUKAN
                 
E. Shapiro, Lawrence. 1997. Mengajarkan Kecerdasan Emosional pada Anak. Penerjemah Alex Tri Kantjono. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, Daniel. 2008. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional). Penerjemah T. Hermaya. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka.
Hidayahtullah, Furqon. 2009. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Iskandar. 2009. Psikologi Pendidikan: sebuah Orientasi Baru. Ciputat: Gaung Persada Press.
Mohyi,Achmad. 1999. Teori dan Prilaku Organisasi. Malang: UMM Press.
Mulyaza, A.Z. 2010. Rahasia Menjadi Guru Hebat. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia
 Psatiadarma, Monty. 2003. Mendidik Kecerdasan. Jakarta: Pustaka  Popular  Obor.
Satiadarma, Monty  P. 2003.  Mendidik  Kecerdasan. Jakarta:  Pustaka  Popular  Obor.
Sukmadinata, Nana S. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsul dan Nina M. Sugandhi. 2011. Perkembangan Peserta didik. Jakarta: Rajawali Pers.