Senin, 11 Maret 2013

Pear of Allah (Chapter 1)



 



Libby selalu ingat awal pertemuannya dengan Nadhir Raditya Kaffah, saat di kelas 4 Sekolah Dasar. Ketika Nadhir menjadi siswa baru, ketika dia sangat pendiam dan tak memiliki teman, ketika dirinya dan Nadhir satu kelompok untuk praktik sholat berjama’ah,...dan ketika Nadhir ikut menangis ketika papa Libby wafat. Semua kenangan itu takkan pernah ia lupakan.
Dan sejalan dengan berjalannya waktu, seolah-olah mereka tak terpisahkan, mereka saling melindungi dan Nadhir akan membela mati-matian jika ada yang membuat Libby menangis. Hal itu berlanjut hingga mereka menjadi siswa SMU.
Namun tak ada yang menyangka bahwa sikap Nadhir akan berubah, dia lebih sering menghindari Libby, memohon kepada Libby untuk tidak membuatkan makan siang, menyuruh Libby untuk berhenti curhat kepadanya. Libby shock dan tak perduli dengan permohonan Nadhir. Dia tetap membawakan makan siang untuk Nadhir, tak kehabisan akal Libby curhat ke Nadhir lewat email, bahkan Libby sering ke gedung Fakultas Kedokteran di mana Nadhir mengambil jurusan spesialis gizi hanya untuk sekedar mengintipnya dari balik pintu. Bagi Libby walaupun hanya sepasang matanya sudah mampu mengobati rindunya.
“Tunggu!” sergah seorang mahasiswa, ketika Libby berpapasan dengannya di koridor. Libby berhenti dan menoleh ke arahnya. “bukankah kamu mahasiswa fisika?”
“Iya, kamu benar.” jawab libby lunak
“Apa hubunganmu dengan Nadhir? Kenapa sih kamu sering menemuinya?”
“Masih sama seperti dulu” kata Libby, lalu meninggalkan dia menuju kelas Nadhir.
“Hubungan yang seperti apa dulu?!” Libby tak menghiraukan dia, “ Nadhir tak ada di kelasnya, dia lagi ujian praktikum di lab.” jelas mahasiswa itu kepada Libby.
Libby berhenti kemudian berbalik ke arahnya, “kalau begitu, tolong berikan ini kepada Nadhir. Dan ini amanat.” kata Libby sedikit menekankan kata amanat sambil memberikan kotak makan.
TEK!
“Ini apa?” tanya Nadhir ketika Egi meletakkan kotak makan di atas meja.
“Seperti biasa dari cewek fisika itu” kata Egi, “siapa sih namanya? Your girlfriend?”
“Libby is her name, and she isn’t my girlfriend.” ucapnya sambil membolak-balik halaman buku. Egi menatap Nadhir curiga, “dia terlalu baik untukku” tambahnya meyakinkan.
“Terlalu baik?!” ulang Egi sengaja untuk mengorek informasi, “memang benar sih, dia tidak cantik, biasa-biasa saja, gak popular, kelihatannya gak pinter-pinter amat. Sangat bertolak belakang denganmu.”
Nadhir menengadah menatap Egi, hatinya sakit saat ada seseorang yang membanding-bandingkan Libby di depannya.
“Kamu kenapa, apa aku salah ngomong? Semua itu hanya sudut pandangku saja, toh kamu sering menghindarinya saat dia dating ke sini.”
“Aku tak bias menggambarkan tentang dirinya, karena semua itu tak cukup.” Kata Nadhir,  menutup bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas dan dia beranjak meninggalkan kelas.

Libby tersenyum saat dia melihat Nadhir berdiri di depan kelasnya, dan cepat-cepat menyelesaikan kuis mekanika dari dosen.
“Maaf pak, kalu sudah selesai bolehkah dikumpulkan?” Tanya Libby sambil mengangkat tangan kanannya.
“Tentu saja.” kata dosen itu penuh senyum. Libby beranjak dari tempat duduk dan sebisa mungkin gak menimbulkan suara yang dapat mengganggu konsentrasi teman-temannya. Dia menyambar tas ranselnya dan menaruh lembar jawaban di meja dosen.
CKLEK! BLAAMMM
“Ee…assalamualaikaum”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Nadhir sambil sekilas melihat Libby, “terima kasih untuk makan siang hari ini, tapi…”
“Jangan membawakan lagi untuk kamukan?!” celetuk Libby menyela, “hemm…sebenarnya sangat aneh jika kamu ngomong kayak gitu,
tapi apa boleh buat, seperti apa yang kamu jelaskan ketika terakhir kali membalas email-ku, kita sudah beranjak dewasa sudah seharusnya bahkan diwajibkan menjaga hijab. Iyakan?” Nadhir tersenyum tanpa memandang Libby, dan Libby menarik nafas panjang, matanya mulai panas, “kalau disuruh milih jelas aku tak mau dewasa.” tambahnya sambil tertawa.
“Itu pemikiran yang salah, Allah memerintahkan hal tersebut karena Dia menyayangi kita.” kata Nadhir, Libby terkesan mendengarnya dan ada sesuatu yang mengalir di dada Libby.
“Hemm ya itu benar, kalau begitu anggap saja makan siang tadi itu yang terakhir kalinya, aku juga tidak akan lagi mengirim email, hah...kalau perlu nomer kamu akan kuhapus di ponselku. Dan kalau ada apa-apa aku akan menghubungi ibu kamu.” kata Libby serak.
“Tak perlu berlebihan Libby, kamu boleh mengirim email dan menelfonku kalau itu benar-benar sangat perlu.” kata Nadhir mencoba menghibur. Dan kalau saja Libby tahu dia pun tak mau jauh-jauh darinya. Sesak dan sakit dada Nadhir kalau melihat mata Libby mulai berkaca-kaca. Dalam hati dia menangis sambil terus beristighfar, memohon ampun semoga terhindar dari Syetan yang terkutuk.